Kamis, 08 Maret 2012

sejarah singkat Pesantren A.P.I Tegalrejo Magelang



SEJARAH SINGKAT PON .PES.A.P.I TEGALREJO     
MAGELANG

Saben nendra sangking wisma
Lelono leladen sepi
Ngisep sepuhing supama
Mrih pana pranaweng kapti
Kepati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Tanapi ing ari ratri
Amemangun karya nak tiyasing sasama

Setiap waktu, di keluar rumah
Untuk berkelana di tempat-tempat yang sunyi,
Menimba pelajaran yang agung
Mencari ketenangan dengan niat yang tulus,
Dengan sungguh – sungguh mengendalikan nafsu,
Baik di waktu siang maupun malam
Dengan melakukan karya yang membawa kesejahteraan
Sesama umat manusia.

S
yair di atas merupakan tembang Jawa, sinon. Bertentangan dengan apa yang mungkin orang harapkan, tembang tersebut tidak digunakan untuk melukiskan perjalanan spiritual seorang penganut kebatinan atau aliran kepercayaan, sebaliknya digunakan untuk mengabarkan kehidupan sehari-hari seorang kyai. Saya mencatat tembang tersebut dari Pak Rasdan seorang pensiunan pegawai Depdikbud ketika melakukan penelitian lapangan di Tegalrejo, Kota Kecamatan yang terletak di gunung Merbabu, sebelah barat Jawa Tengah. Di kota kecamatan ini berdiri pesantren besar yang dikenal dengan Pesantren Tegalrejo.
Pesantren ini didirikan oleh Kyai Chudlori pada tahun 1944 yang sekarang dengan 1300 orang santri, merupakan salah satu pesantren terbesar di Jawa Tengah. Dengan maksud untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah kehidupan Almarhum Kyai Chudlori (wafat tahun 1977), suatu hari saya mewawancarai Pak Rasdan, salah seorang teman dekatnya. Pak Rasdan, mantan aktivis Panitia Nasional Indonesia (PNI) kabupaten Magelang, mengutip tembang diatas untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari almarhum Kyai Chudlori.
Penggunaan tembang jawa untuk melukiskan kehidupan sehari-hari seorang kyai mungkin membingungkan para peneliti asing, terutama mereka yang biasa menggambarkan Islam sebagai agama yang sangat asing, bertentangan atau tidak sesuai dengan kejawen asli 1. Penggunaan ini mungkin juga membingungkan mereka yang dulu memandang orang-orang muslim Jawa dengan menggunakan dikotomi santri abangan 2. Mengapa seorang eks aktivis PNI (yang dianggap partai abangan yang sangat njawani)
Dalam tulisan ini saya berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan mendiskripsikan Pesantren Tegalrejo dan perkembangannya. Pesantren ini dikenal luas bukan hanya sebagai sebuah pesantren yang aktivitas utamanya mengajarkan ajaran agama saja, tetapi juga dipandang penduduk desa sekitarnya sebagai pengayom kebudayaan Jawa setempat. Posisi seperti itu tidak bisa dipahami secara tepat jika menempatkan pesantren dan tradisinya sebagai sesuatu yang berlawanan dengan budaya lokal yang dicap Geertz sebagai abangan.

Gambaran fisik
Pesantren Tegalrejo terletak di kecamatan Tegalrejo, disisi selatan ujung barat jalur utama yang menghubungkan Tegalrejo dengan Magelang, 9 km ke barat, dan ke Salatiga 29 km ke arah timur. Orang asing sekalpun tidak akan kesulitan untuk sampai ke pesantren ini, karena hampir setiap orang di terminal bus Tidar mengetahui letak pesantren ini. Dengan membayar empat ratus rupiah bila naik colt tertutup atau dua ratus lima puluh rupiah bila naik bus dari Magelang, seorang dapat langsung turun tepat di depan pesanten ini.
  Komplek peesantren Tegalrejo menepati tanah seluas dua hekta.Ukuran dan lokasinya yang setrategis sepanjang jalan raya bgian barat kota membuat pesantren ini mudah dikenal. Bangunannya dari barat sampai ke timur meliputi ruang pertemuan yang berukuran 20x12 meter, rumah Kyai yang sekarang, yaitu Kyai Abdurrahman dan rumah adik laki-lakinya, Muhammad. Bangunan-bangunan tersebut terbuat dari tembok. Papan nama pesantren yang ditulis dengan huruf Romawi terpampang jelas di halaman depan ruang pertemuan. Papan itu berdiri di antara beberapa pohon cemara. Bahkan dari atas bus yang lewat seseorang bisa membaca papan nama bertuliskan A. P. I  Asrama perguruan Islam, Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang. Kata pesantren ditulis dengan huruf yang jelas.
Tanah dibelakang merupakan perumahan penduduk dan ruang pertemuan padat dengan bangunan-bangunan lainnya. Di tengah-tengah ini berdiri sebuah langgar berukuran kurang lebih 12 x 10 meter. Langgar ini, disamping digunakan untuk shalat berjama’ah (kecuali shalat dhuhur hari jum’at), juga kegiatan-kegiatan belajar. Disekeliling langgar terdapat bangunan-bangunan berlantai dua dengan 92 kamar, tempat tinggal santri. Masing-masing kamar berukuran 4 x 4 meter. Para penghuni kamar diorganisasi untuk membentuk Jam’iyyah yang menghimpun 30-40 santri, yang berasal dari daerah yang sama. Para santri tidak hanya berasal dari kabupaten Magelang, tetapi juga dari luar. Bahkan 32 dari 1320 santri berasal dari Sumatra.

Kyai Chudlori : Pendiri Pesantren Tegalrejo
Sebagaimana ditunjukkan Dhofier3, hampir semua pesantren besar di Jawa didirikan oleh keturuna kiai. Dhofier menunjukkan bagaimana tiga puluh kiai terkenal hampir semuanya pendiri atau pemimpin pesantren besar di Jawa – mempunyai keturunan dari moyang yang sama, yaitu Kyai Shihah, pendiri pesantren Tambak Beras, Jawa Timur, tahun 18314. Hiroko ketika melakukan penelitian di Cipari Jawa Barat5 juga menemukan bahwa kiai dari beberapa pesantren di daerah ini adalah keturunan Zaenal Abidin, seorang ulama dan cikal bakal desa. Seorang Antropolog lain, Baeley mencatat pola yang sama dari Nangoh, Jawa timur. Enam pesantren ini dibangun oleh kyai-kyai keturunan Kyai Haji Munasan, pendiri pesantren pertama.6
Pesantren Tegalrejo yang didirikan oleh Kyai Chudlori pada tahun 1944, merupakan pengecualian, karena pendirinya bukan berasal dari keluarga kyai, tapi dari priyayi. Ayah Kyai Chudlori, Ihsan seorang penghulu di Tegalrejo dibawah pemerintahan Belanda. Kakeknya, Abdul Halim, juga seorang penghulu yang menangani administrasi urusan agama di daerah pedalaman kabupaten Magelang yang meliputi kecamatan Candimulyo, Mertoyudan, Mungkid dan Tegalrejo. Pada zaman Belanda, seorang penghulu dan keluarganya dihormati sebagai priyayi7.
Chudlori dilahirkan di Tegalrejo, anak kedua dari sepuluh bersaudara. Ibunya,Mujirah adalah putri Karto Diwiryo yang menjadi Lurah di Kali Tengah, dekat kota kecamatan Muntilan. Meskipun seorang priyayi, ayah Chudlori menginginkan paling tidak satu dai anak-anaknya menjadi kyai. Kenyataannya bahwa Tegalrejo bukan kota religius, semakin menyakinkan dirinya untuk berbuat sesuatu bagi para warganya. Abdullah (84), orang tua yang tinggal dekat pesantren, menceritakan kepada saya bahwa desa – desa sebelah timir Tegalrejo seperti Soroyudan, Tepus, mBalak, pernah menjadi sarang bandit-bandit yang terkenal jahat. Perampokan, pencurian, perjudian, dan sabung ayam tersebar luas.
Pada tahun 1923, setelah menyelesaikan studinya di HIS (Hollandsch Inlandcsh School) Chudlori dikirim ayahnya belajar di Pesantren Payaman, sebuah pesantren terkenal di kabupaten Magelang yang diasuh oleh Kyai Siroj. Disini, Chudlori menghabiskan waktu dua tahun dan menjadi apa yang digambarkan oleh Dhofier8santri kelana yang pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya, sesuatu yang lazim dalam tradisi pesantren. Ia berusaha menguasai berbagai cabang ilmu keislaman dimanapun ilmu itu diajarkan. Pengembaraan seperti ini penting sekali, karena seperti ditulis Bailey9 “beberapa pesantren mengkhususkan diri dalam ilmu ini dan beberapa pesantren lainnya mengkhususkan diri dalam ilmu itu.”
Pesantren Koripan diasuh oleh Kyai Abdan ketika Chudlori belajar disana. Kemudian Chudlori pindah mengaji di Pesantren Kyai Rohmat di Gragab hingga tahun 1928. Setelah menguasai beberapa kitab, khususnya kitab Fatchul Qorrib, dia semakin bersemangat dan antusias sehingga pindah ke pesantren Tebu Ireng Jawa Timur (Pesantren yang paling terkenal saat itu), yang dipimpin oleh Hadrotusy Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari. Di Tebu Ireng , Chudlori menemukan tanah air spiritualnya. Walaupun selama empat tahun (Mutharom, Biografi K.H Chudlori,1984: 9-11), Chudlori mempelajari tata bahasa dan sastra Arab seperti al-jumuriyah, al-Umrithi, ‘Izzi, Maqshud, Qowaidi I’rab dan al-Fiyah, tapi masih ingin memperluas pengetahuan agamanya. Pada tahun 1933 pindah ke pesantren Bendo, Pare, Jawa Timur untuk menjadi santri Kyai Chozin Muhajir. Disini dia mendalami fiqh dan mencurahkan tenaganya pada tasawuf, dengan menguasai kitab tasawuf terkenal dengan Ihya’ Ulum ad-Din karya Imam Ghazali.
Setelah empat tahun, Chudlori pindah ke Pesantren Sedayu Jawa Timur untuk mempelajari Qiratul Qur’an, selama tujuh bulan. Tahun 1937 pindah ke pesantren terakhir, Pesantren Lasem. Pesantren yang berada di timur laut Jawa Tengah ini diasuh oleh dua orang kiai terkenal Kiai Haji Ma’shum dan Kiai Haji Baidlowi. Ketika sudah menguasai semua kitab yang diajarkan, Chudlori sering diminta oleh Kiai Baidlowi untuk mengajar para santri lainnya. Di pesantren inilah Chudlori menggali bakatnya sebagai seorang kiai. Meskipun tetap tinggal di sana, Chudlori tidak begitu banyak balajar, karena harus mengabdi pada kiai agar memperoleh karomah untuk memastikan bahwa dimasa yang akan datang itu yang diperoleh dari para kiai itu akan tetap memiliki potensi spiritual dan berkualitas.
Catatan sejarah kehidupan Chudlori selama belajar di berbagai pesantren (nyantri) penuh dengan cerita-cerita perjuangannya yang keras, keteguhan, kesalehan dan kezuhudannya. Misalnya, ketika sedang belajar di pesantren Payaman, 12 km sebelah barat laut Tegalrejo, sebulan sekali pulang mengambil perbekalan yang dibawa dengan cara dipanggul. Anak muda yang baru memasuki umur belasan, harus memanggul satu karung beras dan perbekalan lain di pundaknya, merupakan pekerjaan yang tidak pantas dan sesuatu yang luar biasa bila dilakukan oleh seorang priyayi.
Rasdan (73), yang mengenal keluarga Chudlori, menceritakan kepada saya bahwa ketika Chudlori belajar di Tebu Ireng, ayahnya mengirim uang sebanyak Rp. 750,- perbulan, tetapi Chudlori hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya. Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Dia melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri.
Kiai Idris, teman Chudlori ketika belajar di Tebu Ireng, menuturkan cerita menarik lainnya. Di kamarnya di Tebu Ireng, Chudlori membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Dus, dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam. Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur (Mutharom, Biografi K.H Chudlori,1984: 9).
Setelah membaca kitab Imam Al-Ghazali, dia berusaha dengan sungguh-sungguh mempraktekkan ajaran tasawuf. Kehidupan sehari-harinya penuh amalan tasawuf, termasuk berbagai macam bentuk puasa, salat tengah malam, membaca Al-Qur’an dan dzikir. Ketika Chudlori masih belajar di Pesantren Bendo, seorang kiai yang sangat terkemuka di daerah Magelang, yakni Kiai Dalhar, pimpinan pesantren Watu Congol menawari Chudlori untuk menikahi putrinya. Namun pada tahun 1937 baru saja pindah dari Pesantren Bendo ke Pesantren Lasem, ayahnya, Ihsan meninggal dunia sehingga pernikahannya ditunda. Dua tahun kemudian, ketika keluarganya diminta Kiai Dalhar untuk melaksanakan akad nikah, Chudlori pergi dari Lasem tanpa sepengetahuan keluarganya. Seorang kerabat yang tinggal di Surabaya menemukan Chudlori sedang menjalani uzlah di makam ‘keramat’ Batu Ampar, di Pulau Madura. Dia menghabiskan waktu hampir dua tahun untuk menjalankan praktek mistik di kuburan keramat ini. Di sana dia dijemput oleh keluarganya dan tahun 1940 akhirnya Chudlori mengakhiri status lajangnya dengan menikahi putri Kiai Dalhar.

Pesantren Tegalrejo dan Perkembangannya
Setelah pernikahannya, Chudlori diminta mertuanya tinggal dan mengajar di pesantren Watu Congol, Muntilan, 22 km barat daya Tegalrejo. Sebagai menantu seorang kiai terkenal dan seorang kiai muda di pesantren terkenal, Chudlori mulai menempati posisi yang relatif tinggi, khususnya dalam konteks dunia pesantren sendiri di desa kelahirannya, Tegalrejo.
Keinginan ini bukan hanya didasarkan pada pertimbangan rasional semata. Sebelum membuat keputusan yang terakhir, ia melakukan mujahadah setiap malam Jum’at di makan keramat Raden Santri, yang terletak di puncak bukit Gunung Pring, 2 km sebelah selatan Watu Congol agar memperoleh petunjuk spiritual dan restu Allah. Setelah melakukan mujahadah setiap minggu selama setahun, pada hari Jum’at dini hari, sekitar pukul 03.00 tahun 1943, ia merasa menerima petunjuk yang jelas bahwa keinginannya direstui Allah. Malam itu, ketika peziarah yang mengunjungi makam ‘keramat’ itu sudah pulang, dan Hasyim, santri yang menemani Chudlori sudah tertidur, suara menggelegar yang tidak disangka-sangka muncul dari dalam makam. Badan Chudlori gemetar dan sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Tapi hatinya tetap tenang. Chudlori menafsirkan kejadian ini sebagai petunjuk Tuhan bahwa niatnya untuk mendirikan pesantren baru Tegalrejo direstui.
Chudlori membangunkan Hasyim untuk diajak pulang. Di tengah perjalanan dia menceritakan kepada Hasyim apa yang baru saja dialaminya dan meminta Hasyim untuk menyampaikan maksunya melaksanakan iqamah (keinginan mulai mengelola pesantrennya sendiri) pada mertuanya. Kiai Dalhar merestui rencana tersebut. Pada tanggal 15 September 1944 Chudlori kembali ke desanya, Tegalrejo dan pada hari itu juga pesantren Tegalrejo secara formal didirikan.
Beberapa keluarga Muslim di desa sekitarnya mendengar kembalinya Chudlori dan mengirimkan anak laki-laki mereka untuk menjadi santrinya. Pada awalnya ada 8 santri di Pesantren Tegalrejo yaitu Hasyim, Muhasyim, Idris Tarui, Muhiyat, Abdullah, Fachrurozi, Muhammad Barin dan Syiraj. Semuanya berasal dari desa-desa terdekat. Kini Chudlori terkenal dengan kiai baru. Pesantren tersebut juga menarik dukungan dari orang-orang Islam yang kaya. Diantara mereka adalah Haji Dahlan dari Magelang yang membangun bangunan pesantren ini.
Pada tahun 1947, Belanda melancarkan agresi militer pertama yang kemudian diikuti dengan agresi militer kedua tahun 1948 (M.Cricklefe, 1987:213-218). Tegalrejo sebagaimana daerah lainnya, menjadi benteng pejuang gerilyawan Indonesia. Kiai Chudlori memberikan izin terhadap sebagian dari santrinya untuk terlibat dalam perang gerilya. Aktivitas-aktivitas rutin pesantren terhenti, dan bangunan pesantren dibongkar oleh Belanda untuk dijadikan barak di Pakis, 4 km sebelah timur Tegalrejo. Rumah kiai dirampas untuk markas militer Belanda di daerah ini. Kiai Chudlori dan keluarganya harus melarikan diri, pindah dari satu desa ke desa lainnya di pedalaman.
Saat kepergian Kiai Chudlori dari Tegalrejo ini disebut masa fatroh (vakum). Para sesepuh desa Soroyudan, seperti Karto Peni dan Sastromiharjo masih ingat bahwa pada masa ini Kiai Chudlori sering berziarah ke makam Kiai Abu Yamin di Tejo, dan makam Kiai Abdul Mu’in di desa Sekembeng. Kiai Chudlori juga meluangkan waktunya untuk mendakwahi para pemimpin penjahat. Parto Tepus dari Desa Surodadi, seorang bandit yang paling terkenal jahatnya waktu itu diajak masuk Islam oleh Kiai Chudlori dan akhirnya menjadi salah seorang pengikutnya yang paling setia. Dengan penuh rasa penyesalan, Parto Tepus yang kini sudah berusia delapan puluhan tahun bercerita pada saya:
Hingga tahun 1949, saya adalah pemimpin bandit yang sangat terkenal jahatnya. Saya melakukan semua bentuk kejahatan dan kriminalitas seperti perjudian, perampokan, pemerasan dan bermain perempuan. Karena kemasyhuran saya sebagai seorang yang kebal (jadug) membuat orang takut kepada saya. Jika saya menginginkan uang, sering kali saya hanya memerintahkan orang yang akan menjadi korban untuk meninggalkan sejumlah uang pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan dan mereka melakukan. Pada saat itu barangkali saya adalah manusia yang paling jahat di dunia. Pada suatu hari ditahun 1949, saya ditimpa musibah. Saya mengalami sakit yang parah. Saya berobat ke beberapa dokter di Magelang. Saya juga berobat dengan banyak dukun, tetapi tidak sembuh. Selama berbulan-bulan saya hanya berbaring di tempat tidur. Sungguh tidak disangka-sangka suatu hari Kiai Chudlori, dengan ditemani dua santrinya menjenguk saya. Setelah berbicara sejenak dengan saya dan istri saya, beliau minta segelas air dan kemudian melafalkan doa di gelas tersebut. Sembari menyuruh saya minum, beliau berkata: “Sesungguhnya Anda tidak sakit, ini tidak lain hanya kehendak Tuhan untuk mengurangi dosa anda!” Saya benar-benar terpesona dengan kata-kata kiai itu sehingga saya bertanya pada beliau: mungkinkah orang seburuk saya bisa bertaubat?” Kiai menjawab “Pintu kemurahan dan belas kasih Tuhan jauh lebih besar dari dosa anda!” Mendengar jawaban semacam itu secara spontan saya menangis, tindakan yang tidak pernah saya alami dan lakukan sebelumnya. Pada saat itu pula saya mengatakan harapan saya untuk bertaubat dan menjadi seorang Muslim. Disaksikan oleh istri dan dua orang santri, Kiai Chudlori menuntun saya mengucapkan dua kalimah syahadat. Mulai saat itu saya mengakhiri kelakuan jahat dan menjadi pengikut Kiai Chudlori agar menjadi seorang Muslim yang saleh.
                Pada akhir tahun 1949, Tegalrejo dalam keadaan lebih aman sebagai akibat hasil goncatan senjata dengan Belanda. Pengalihan kedaulatan kepada Indonesia, termasuk Irian Jaya berlangsung pada tanggal 27 Desember 1949 ((M.Cricklefe, 1987:220). Kiai Chudlori keluar dari persembunyian dan mulai mengaktifkan dan membangun kembali pesantrennya. Namun beliau tertimpa musibah. Kurang dari satu tahun setelah bertemu dengan keluarga dan para santri, ibunya meninggal. Beberapa bulan kemudian, Abdullah, salah seorang santri kesayangannya juga meninggal. Masih di penghujung tahun 1951, istrinya juga meninggal. Oleh karena itu, baru pada tahun 1952 Kiai Chudlori dapat berkonsentrasi pada pekerjaanya. Pada tahun ini Kiai Chudlori menikah untuk kedua kali dengan Nur Halimah atas saran mantan mertuanya. Menurut Kiai Yasin (62), salah seorang alumni Pesantren Tegalrejo, yang sekarang memimpin pesantrennya sendiri, tantangan yang paling berat yang dialami waktu itu adalah kurangnya keuangan dan sumber daya. Meskipun ayahnya seorang pengulu, Kiai Chudlori bukanlah orang yang kaya. Dia hanya mendapat warisan rumah dan tanah yang digunakan untuk pesantren. Kiai Yasin menceritakan kepada saya betapa miskinnya Kiai Chudlori pada masa-masa awal perjuangan membangun kembali pesantrennya. Suatu hari, kata Kiai Yasin, Kiai Chudlori pernah minta saya meminjaminya beberapa kilogram beras. Menyadari betapa miskinnya Kiai Chudlori, sejak itu keluarga Yasin memberikan sumbangan beras secara kontinyu.
                Yasin juga ingat bagaimana Kiai Chudlori melakukan apa saja yang bisa mengatasi persoalan keuangan. Bahkan ia pernah berusaha beternak ayam dan itik, dan menyuruh para santri mengamalkan salawat idrok. Usaha tersebut berhasil sehingga beberapa bulan berikutnya dapat membeli domba dan tidak lebih dari dua tahun mampu membeli beberapa ekor sapi. Kiai Chudlori memerah sendiri susu sapi dan dijual kepada santrinya. Untuk mengenang saat miskinnya, Kiai Chudlori memberi nama anaknya yang ketiga, yang dilahirkan saat itu, Mudrik, yang berarti setiap orang yang mengamalkan salawat idrok. Bahkan saat itu, salawat idrok merupakan salah satu dari doa-doa harian yang ditawarkan pada santri di Tegalrejo.
                Cerita-cerita kesengsaraan dan akhirnya keberhasilan Kiai Chudlori itu mengangkat reputasi beliau sebagai seorang kiai. Cerita-cerita tentang kekuatan spiritualnya semakin meluas. Beberapa tempat di Tegalrejo yang sampai sekarang masih diyakini sebagai tempat yang dihuni hantu menjadi aman lantaran amalan spiritualnya. Perpindahan agama Parto Tepus juga memperkuat dan memperluas pengaruhnya. Akibatnya, pesantren juga cepat berkembang. Bantuan materiil dan keuangan untuk membangun dan memperluas pesantren mengalir dari desa-desa di sekitar Tegalrejo. Pada tahun 1954, jumlah santri meningkat lebih dari 400 orang.
                Setelah Indonesia merdeka partai-partai politik saling bersaing memperoleh dukungan untuk memenangkan pemilihan umum tahun 1955. Pada saat itu pesantren terlibat aktif dalam kampanye politik dengan memberikan dukungan yang luas kepada Nahdlatul Ulama (Maarif, 1988:37-38). Pesantren Tegalrejo dengan kepemimpinan Kiai Chudlori tetap menjaga kenetralannya. Meskipun Kiai Chudlori berafiliasi dengan NU, tetapi tetap melarang aktivitas politik dalam pesantren, melarang penempelan simbol-simbol dan poster partai politik di tembok-tembok bangunan pesantren. Rahmat (46), seorang alumni pesantren Tegalrejo yang sekarang menjadi kepala Kantor Urusan agama (KUA) Tegalrejo, menceritakan pada saya bahwa kebijakan Kiai Chudlori seperti itu disebabkan ingin menjadi seorang kiai untuk semua kelompok. Ketika ditanya, Kiai Chudlori menjawab: “Jika saya memasang simbol NU di sini, apakah saudara yakin bahwa dukungan anggota partai-partai politik lainnya terhadap pesantren ini tidak akan berkurang?”.
                Setelah pemilihan umum tahun 1955, Kiai Chudlori beberapa kali diminta oleh para pemimpin NU untuk duduk di Parlemen (DPR) baik di tingkat pusat maupun di wilayah sebagai wakil dari NU, tetapi ditolak dan lebih senang meneruskan hidup di Tegalrejo sebagai kiai. Kiai Chudlori pernah mengatakan pada koleganya, Rasdan, bahwa dia lebih senang memilih posisi yang tinggi dalam pandangan Allah daripada dalam pandangan manusia. Dia juga menunjukkan betapa banyak pesantren yang mengalami kemunduran gara-gara kiainya terlalu aktif terlibat dalam politik. Sikap politiknya yang netral itu membuat dihormati semua orang tanpa memandang afiliasi politik mereka. Tampaknya Kiai Chudlori benar-benar menyadari bahwa ketelibatannya aktif dalam partai politik bisa merugikan tujuan utamanya dalam menyebarkan agama kepada seluruh masyarakat.
                Kurikulum kajian keagamaan yang diajarkan di Pesantren Tegalrejo membutuhkan waktu 7 tahun. Ajaran dan amalan-amalan tasawuf dulu dan sampai sekarang merupakan bagian inti kurikulum. Bahkan Kiai Chudlori menyebut tingkat yang paling tinggi (tingkat tujuh) dengan ihya’, meminjam judul kitab tasawuf terkenal, ihya’ ‘Ulum ad-Din. Karena amalan-amalan tasawuf mewarnai kehidupan sehari-hari Pesantren Tegalrejo, maka pesantren ini terkenal sebagai pesantren tasawuf. Karena popularitas ini, Pesantren Tegalrejo dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Muktamar Nasional Tarikat Mu’tabarah pada tanggal 12 sampai 13 Oktober 1957. Beribu-ribu pemimpin tarekat seluruh penjuru Indonesia terlibat secara aktif dalam muktamar tersebut. Hasilnyam, setelah pelaksanaan muktamar itu, jumlah santri Tegalrejo meningkat dari 500 menjadi lebih dari 1200 orang. Pesantren Tegalrejo menjadi salah satu pesantren terbesar dari 830 pesantren yang ada di Jawa Tengah.
                Reputasi keilmuan dan pengaruh Pesantren Tegalrejo di Jawa juga memperkuat pengaruhnya di kalangan para petani di desa-desa sekelilingnya. Untuk melayani kebutuhan spiritual para petani setempat, pada tahun 1957 Kiai Chudlori mengadakan kegiatan rutin yang disebut Pengajian Senenan, yaitu pengajian yang diselenggarakan setiap senin pagi di Masjid Tegalrejo. Kiai Chudlori memilih hari senin untuk membedakan pengajian dengan kegiatan para pegawai negeri yang hanya pada hari Minggu sebagai hari liburnya. Dengan demikian, Pengajian Senenan dengan sengaja ditujukan untuk orang-orang desa. Beratus-ratus, bahkan beribu-ribu jama’ah warga desa duduk di sermabi masjid Tegalrejo untuk mengikuti Pengajian Senenan sebagai bukti nyata bahwa tradisi pesantren berjalan terus dan didukung oleh masyarakat perdesaan.
                Pada tahun 1960-an ketegangan politik di Indonesia meningkat, sebagian karena kebijakan “revolusi belum selesai” dari Sukarno. Selama periode ini, Kiai Chudlori terus mendorong netralitas politik dengan melarang para santri untuk mengikuti pawai yang diselenggarakan partai. Keteguhan mempertahankan netralitas politik ini terus berlanjut hingga era ‘OrdeBaru’.
                Pada paruh kedua tahun 1960-an, Pesantren Tegalrejo telah menghasilkan banyak alumni. Setahun sekali mereka kembali ke pesantren untuk mengikuti acara khataman yang diadakan pada bulan ruwah. Terkesan dengan kedatangan secara teratur sejumlah alumni yang semakin meningkat, Kiai Chudlori menyelenggarakan pertemuan yang jauh lebih teratur bagi para alumni. Seperti majelis Muqimin, yang dilaksankan setiap 35 hari sekali pada malam Ahad Kliwon, pertemuan rutin ini dimaksudkan agar dapat mempertahankan silaturahmi antara pesantren dan para alumninya, yang sebagian diantaranya ada yang sudah mendirikan pesantren sendiri.
                Pertemuan-pertemuan ini juga menarik perhatian para ustadz dari luar. Untuk memperkuat kesatuan dan solidaritas (ukhuwah) para ustadz pesantren, pada tanggal 21 November 1972, Kiai Chudlori dengan didukung oleh para pemimpin pesantren yang lain membentuk Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren se Karesidenan Kedu (P4SK). Meskipun tidak semua pesantren di karesidenan ini bergabung, namun fatwa bahwa P4SK mempunyai cabang di lima kabupaten (Magelang, Kebumen, Purworejo, Temanggung, Wonosobo) menunjukkan bahwa pesantren Tegalrejo mempunyai pengaruh yang besar di dunia pesantren.
                Dengan maksud untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, pada tahun 1970-an pemerintahan Orde Baru memberikan perhatian kepada pesantren. Pada awal tahun 1974, Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali mengunjungi pesantren Tegalrejo dan antara lain menawarkan bantuan keuangan. Seperti diceritakan Pak Busro, salah satu alumni pesantren Tegalrejo yang menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Candimulyo, Kiai Chudlori menolak secara halus, dengan mengatakan bahwa masih banyak pesantren lain yang membutuhkan bantuan. Sikap semacam ini sering dianggap, terutama oleh pejabat pemerintah (Hal ini dikatakan oleh Kepala Kantor Departemen Urusan Agama Kabupaten dan kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Tegalrejo kepada saya) sebagai sikap pembangkangan dengan menolak usaha-usaha pembangunan pemerintah. Namun masyarakat di Pesantren Tegalrejo sendiri memandang sikap semacam ini tidak lebih dari wujud  upaya yang tidak pernah berakhir untuk menggembirakan kemandirian yang begitu penting dalam tradisi santri. Dalam bahasa Kiai Abdurrahman, anak pertama Kiai Chudlori dan sekarang menjadi pengasuh, Kiai Chudlori menolak uang bantuan pemerintah merupakan wujud keinginannya menerapkan dan menanamkan nilai keikhlasan (ketulusan) yang sangat penting dalam ajaran tasawuf. Hal ini juga dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan intervensi pemerintah yang akan mengurangi tingkat kemandirian pesantren.
                Setelah sakit parah, Kiai Chudlori wafat pada tanggal 28 Agustus 1977. Beliau meninggalkan surat warisan tertulis yang disampaikan kepada Kiai Ibrahim, Ketua P4SK dan pimpinan pesantren Jawar, Wonosobo, Kiai Ubaidah, salah seorang pegawai Kantor Pengadilan Agama, Kiai Muslih, pimpinan Pesantren Salam Kanci dan wakil ketua DPRD Kabupaten Magelang, dan Abdurrahman, putra pertamanya yang telah dikader untuk menggantikannya. Dokumen tersebut berisi pesan-pesan berikut ini:
                Kedamaian, rahmat dan karunia Allah semoga senantiasa bersamamu. Segala puji hanya kepunyaan Allah, yang memberikan kehidupan dan        menciptakan kematian. Kemurahan dari berkah untuk utusan terpilih,       keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti kebenaran dan menepati janjinya. Perkenankanlah kami mengajak saudara untuk bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya, taqwa kepada Allah merupakan inti           dari watak yang terpuji. Hai anak-anakku Kiai Ibrahim, ubaidah, Radi Muslih, Abdurrahman dan yang lainnya! Yakinlah bahwa kamu semua akan merasakan lebih berat untuk melanjutkan perjuangan P4SK dan Majelis Muqimien, karena aku sendiri merasakan seperti itu. Perjuangan kita seharusnya mampu menjadi lokomotif. Ini berarti mendorong para orang tua dan menarik kalangan muda. Meskipun usaha ini berat, perjuangan yang terus menerus dilakukan, disertai dengan memohon bantuan Allah secara terus-menerus P4SK harus mampu memperkuat Majelis Muqimien. Begitu juga Majelis Muqimien harus mampu memperkuat kesatuan di kalangan pesantren. Meskipun perjuangan ini berat, tapi harus dilakukan karena pesantren merupakan instrumen yang Islami dan pasti menumbuhkembangkan kemuliaan Islam. Jika pesantren lenyap, Islam akan habis. Inilah wasiatku. Chudlori.

                Wasiat Kiai Chudlori untuk para santrinya sebagai berikut: Untuk semua santri yang tulus, perkenankan aku meminta bantuanmu. Pertama, bagi santri yang sudah selesai belajar membaca Al-Qur’an, aku minta masing-masing kamu mengkhatamkan al-Qur’an disekat pusaraku paling tidak sekali, jika lebih dari sekali, aku sangat berteri makasih. Insya                 Allah, Allah akan memberikan ilmu yang bermanfaat kepadamu. Kedua, bagi para santri yang masih belajar membaca al-Qur’an, aku meminta masing-masing kamu untuk menyenandungkan dzikir sebanyak 70.000 kali. Ketiga, setelah tamat belajar di pesantren ini kamu harus mengajarkan agama kepada masyarakat semampumu. Inilah wasiatku. Chudlori.

                Abdurrahman (lahir 1942) bersama adik laki-lakinya, Muhammad (lahir 1946) yang menjadi asistennya mewarisi kompleks pesantren dan lebih dari 1.200 orang santri ari ayahnya serta tradisi pesantren Tegalrejo yakni pandangan Islam tasawuf, etos kemandirian, jalinan yang kuat dengan para alumni yang sekarang mempunyai lebih dari 50 pesantren dari desa-desa yang dipelihara melalui tradisi Pengajian Senenan. Makam Kiai Chudlori yang hanya 200 meter sebelah utara kompleks pesantren sudah menjadi tempat ziarah yang populer bagi para warga desa.
                Abdurrahman (sebelum dipanggil Gus saja) kini dikenal sebagai Kiai Abdurrahman. Dia sering menyatakan kepada para santri bahwa yang menjadi kiai di Pesantren Tegalrejo, masih ayahnya, Kiai Chudlori. Sementara dirinya sendiri hanya seorang ayahnya. Kendatipun pernyataan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kerendahan hati, pernyataan ini ditafsirkan berbeda oleh orang lain di kalangan para santri dan penduduk desa masih ada keyakinan bahwa Kiai Chudlori dan putra-putranya masih melakukan komunikasi secara terus-menerus, khususnya Kiai Abdurrahman dan Muhammad. Hal ini bisa dipahami, karena menurut para ulama tradisional, kontak anatara orang yang sudah meninggal dengan yang masih hidup bukanlah hal yang mustahil, terutama bila keduanya adalah orang yang saleh.
                Kiai Abdurrahman benar-benar menyadari keberhasilan ayahnya oleh karena itu, dia berusaha melestarikan semua aktivitas yang dulunya telah dilaksanakan oleh ayahnya, dan menjaga pesantren supaya tidak berubah. Ketika seorang wartawan bertanya mengenai kemungkinan penyesuaian kurikulum pesantren dengan kebutuhan era sekarang dan mengarahkannya sejalan dengan pesantren lain, Kiai Abdurrahman menjawab: “Walaupun banyak sekolah sekuler dan pesantren lain, saya yakin sistem pesantren Tegalrejo akan terus dibutuhkan” (Pesantren, 1985:40-42). Kemudian beliau menunjukkan kenyataan bahwa meskipun diakui ada penurunan keinginan masyarakat untuk memasukkan anaknya di Pesantren Tegalrejo, sekarang ada sekitar 1.500 santri (saya mencatat jumlah sesungguhnya Maret 1986 adalah 1.300 santri). Kiai Abdurrahman mengatakan kepada para orangtua dan santri baru bahwa pesantrennya menggunakan model salaf. Kabarnya orang tua santri biasanya menjawab “Model pendidikan inilah yang kami cari!” Pesantren Tegalrejo terus menerapkan hampir seluruh ajaran dan praktek pendirinya, Kiai Chudlori. Dengan melakukan itu, Pesantren Tegalrejo tetap mempertahankan popularitasnya, khususnya dalam ajaran dunia pesantren.

Pesantren Tegalrejo di Bawah Kepemimpinan Baru
                Almarhum Kiai Chudlori menjalankan Pesantren Tegalrejo sendirian, mengajar para santri dan imam salat lima waktu, menyelenggarakan mujahadah, menyampaikan pengajian seminggu sekali, menerima tamu, memberikan petunjuk dan amalan spiritual bagi orang-orang yang memintanya, dan sebagainya. Sebaliknya, kepemimpinan Kiai Abdurrahman tidak seluas itu. Dia berbagi tugas dan oleh karena itu berbagi pula pengaruh dengan adik-lakinya, Muhammad. Ini disebabkan keterlibatan Kiai Abdurrahman dalam pengajian-pengajian dengan warga desa disekitarnya dan keterlibatan aktif dalam kepemimpinan NU tingkat Kabupaten.
                Meskipun Kiai Chudlori juga aktif memberikan pengajian pada warga desasekitarnya, tapi hanya setiap hari senin. Dia mengalihkan semua permohonan pengajian dari warga desa di luar Tegalrejo kepada kiai lainnya atau kepada mantan santrinya, seperti Kiai Thoyib dari Sidorejo atau Kiai Munir dari Tegal Randu. Kiai Chudlori mencurahkan waktu dan tenaga untuk kemajuan pesantrennya sendiri. Dengan alasan yang sama ia juga menilak untuk terlibat aktif dalam kepemimpinan NU. Dengan mempercayakan pengajian agama untuk masyarakat umum kepada santrinya sendiri, telah memperluas pengaruh Pesantren Tegalrejo di kalangan santri dan masyarakat sekitar tanpa beliau harus terlibat langsung.
                Rasdan, salah seorang sahabat karib Kiai Chudlori, bercerita pada saya bahwa dia pernah bertanya kepada kiai mengapa tidak berkenan terlibat sepenuhnya dalam pengajian. Kiai Chudlori menjawab dengan menggunakan analogi. “Ada dua model pedagang toko dan tukang klenteng. Para pemilik toko tidak perlu pergi kemana-mana untuk menjual dagangannya, karena para pembeli akan mendatanginya, terutama jika barang yang mereka jual menarik dan para pembelinya ingin memilikinya. Sebaliknya, tukang klenteng mengumpulkan barang jualannya dari para pedagang lainnya dan kemudian mereka pergi dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menjual barang dagangannya tersebut. Saya ditakdirkan menjadi kiai toko, bukan kiai klenteng.”
                Selama beberapa tahun setelah wafat ayahnya, Kiai Abdurrahman berusaha mewarisinya dengan memusatkan diri mengajar para santri dan memimpin pesantren. Kiai Abdurrahman hanya memberikan pengajian pada hari Senin dan tidak terlibat secara formal dalam kepengurusan NU. Tapi pada tahun 1982, sekitar lima tahun setelah wafatnya Kiai Chudlori dia mulai menerima undangan mengisi pengajian dari warga desa di luar Tegalrejo.
                Kiai Abdurrahman mengatakan kepada saya bahwa beliau mengambil keputusan untuk memperluas aktivitas setelah berkonsultasi dengan mbah Raden Ahmad, kiai sebuah desa Pundun sekitar 17 km sebelah tenggara Tegalrejo. Konon, kiai ini mampu menjalin hubungan dengan orang yang sudah meninggal. Menurut Kiai Abdurrahman, ayahnya merestui peran baru ini melalui perantaraan mbah Raden Ahmad. Sekarang Kiai Abdurrahman adalah Rois Am Syuriah NU Cabang Kabupaten Magelang.
                Keputusan Kiai Abdurrahman ini juga bisa dijelaskan dengan cara lain. Pertama, dia menyadari bahwa sekarang dapat berbagi tugas mengajar pesantren dengan adiknya, Muhammad dan dengan demikian bebas melakukan aktivitas di luar. Kedua, karena desa yang mengundangnya itu jaraknya dekat, tidak lebih dari satu jam perjalanan, sehingga bisa memenuhi undangan itu tanpa harus meninggalkan pesantren sehari penuh.
                Keputusan Kiai Abdurrahman untuk bergabung dengan kepengurusan NU juga dipengaruhi oleh hasil keputusan Muktamar NU di Situbondo, Jawa Timur pada bulan Desember 1984 yang menyatakan bahwa NU secara formal meninggalkan politik praktis dan memutuskan hubungan dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dengan slogan baru “Kembali ke Khittah 1926” (NU sebagai organisasi sosial keagamaan bukan sebagai organisasi yang terlibat dalam politik). NU secara formal meninggalkan politik praktis dan melarang pengurus harian Partai Politik. Dengan terpaksa NU mengambil kebijakan ini agar leluasa dalam menyebarkan ajaran Islam kepada semua orang tanpa memandang aliansi politik mereka.
                Pemilihan Abdurrahman sebagai Rais Am Majlis Syuriah NU merupakan pengakuan para kiai lain di Magelang terhadap kekiaiannya, sekalipun kepemimpinan NU secara formal tidak sama dengan senioritas di bidang spiritual. Adik laki-lakinya, Muhammad, yang dikenal dengan Pak Muh, lebih dikenal karena kedalaman spiritualitasnya sehingga pengikutnya lebih banyak. Bagi orang-orang yang mencari petunjuk spiritual dan pengobatan lebih baik menemui Pak Muh daripada Kiai Abdurrahman. Pak Muh dianggap mempunyai berbagai kemampuan batin oleh orang yang menyebutnya sebagai seorang wali.
                Dari keterangan diatas dapat dilihat bahwa kekuasaan dan prestise di Pesantren Tegalrejo dibagi antara Kiai Abdurrahman dan Pak Muh. Kiai Abdurrahman memegang posisi formal kiai dan pemimpin NU serta memberikan pengajian. Pak Muh menggunakan pengaruhnya melalui kemampuan batik yang melekat pada dirinya. Kelompok-kelompok sasarannya jelas kebanyakan orang kejawen. Dua fungsi itu diemban oleh satu orang yakni Kiai Chudlori. Sekarang fungsi itu diemban oleh dua orang, Kiai Abdurrahman dan Pak Muh. Meskipun Kiai Chudlori telah wafat, bayang-bayang spiritualnya masih menyatukan putra-putranya.
               
Pesantren Tegalrejo dan Kesenian Jawa
                Beberapa minggu sebelum khataman tahun 1986, pamflet-pamflet ditempelkan di banyak tempat strategis di seluruh Kabupaten Magelang. Pamflet ini menginformasikan pada masyarakat bahwa Pesantren Tegalrejo akan menyelenggarakan pesta seni dan dakwah dari tanggal 19 hingga 21 April. Menurut pamflet tersebut akan dipertunjukkan berbagai kesenian rakyat Jawa seperti wayang, ketoprak, reog, jatilan, campur, sorengan, disamping film Indonesia, orkes dangdut dan pertunjukkan yang bernafaskan keagamaan lainnya seperti badui, kubro dan samroh.
                Kataman di Pesantren Tegalrejo sebenarnya adalah pesta perpisahan bagi para santri yang sudah lulus dan akan menduduki posisi sebagai kiai di desa mereka masing-masing dan bagi para santri yang naik kelas. Dengan demikian, kataman merupakan bagian intrinsik agenda Pesantren Tegalrejo. Keterlibatan beberapa kesenian rakyat Jawa dalam acara kataman, sebagaimana diumumkan dalam pamflet, membangkitkan keinginan saya untuk menelitinya, sehingga saya memperpanjang waktu penelitian lapangan di sana untuk tujuan ini. Ketika ditanya mengenai keikutsertaan berbagai kesenian rakyat Jawa dalam perayaan kataman, Kiai Abdurrahman mengatakan pada saya bahwa beliau tidak tahu apa-apa mengenai pesta kesenian tersebut dan menyuruh saya berbicara dengan Pak Muh. Berkali-kali saya berusaha mendiskusikan persoalan tersebut dengan Pak Muh, tapi dia menolak. Melalui santri pelayannya, dia menyampaikan pesan bahwa saya harus bertanya pada Kiai Abdurrahman atau mengamati apa yang sedang terjadi. Ketika saya menceritakan hal ini kepada Muhyidin, santri senior yang menjadi staf pengajar pesantren, mengatakan “Jangan berharap anda bisa mewawancarai Pak Muh. Beliau bukan kiai biasa. Bahkan saya sendiri tidak yakin dapat bertemu beliau sekali dalam satu tahun. Tapi jangan khawatir. Dengarkan informasi yang anda inginkan!”
                Tanpa disangka-sangka, baru beberapa hari setelah itu, dalam sebuah pengajian yang saya hadiri, Pak Muh menyampaikan informasi mengenai penyelenggaraan berbagai macam pertunjukkan kesenian rakyat tersebut. Beliau menjelaskan:
                Masih banyak orang yang heran mengapa saya mengundang begitu banyak            rombongan jatilan untuk acara kataman. Ya, saya harus mengakui bahwa saya adalah kiai jatilan. Tapi silahkan, lihat dalam kitab ini (Beliau menunjuk sebuah kitab berbahasa Arab yang saya kira adalah Al-Hakim karangan Ibn            ‘Atha’illah). Maksiat yang akhirnya menyebabkan orang orang menjadi taat   jauh lebih baik dari taat yang dibarengi dengan kesombongan akan menyebabkan seorang takabur. Bagi manusia, takabur merupakan sifat yang buruk, tetapi bagi Tuhan yang Maha tak terbatas, kesombongan merupakan salah satu sifat-Nya. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali pernah berharap bahwa hanya kita yang sekarang menjalankan salat lima waktu dalam sehari ditakdirkan masuk surga. Mereka yang sekarang sedang bermain jatilan pun mungkin juga ditakdirkan masuk surga, dan kita mungkin dilemparkan ke dalam neraka, karena penuh dengan ketakaburan. Saya ingin mengatakan kepada saudara mengenai persoalan ini. Jauh lebih baik mereka    menggunakan uang untuk jatilan daripada untuk taruhan. Selain itu, jika   mereka bermain di halaman pesantren, siapa tahu hati mereka akan lebih dekat dengan pesantren? Tahukah saudara sekalian, bahwa kebanyakan pemain jatilan yang saya undang beberapa tahun yang lalu sekarang menjadi santri? Oleh karena itu, jangan sekali-kali mengecam orang lain, tetapi bedoalah kepada Allah. Semoga saudara-saudara kita suatu hari kelak menjadi Muslim yang baik.
                Ketika saya ceritakan kepada Muhyidin mengenai isi pengajian tersebut, dia memberikan komentar, “Ingat apa yang telah saya katakan pada anda? Akhirnya, Anda mendapatkan penjelasan langsung dari Pak Muh. Sesungguhnya dia bukan sekedar kiai, tapi wali!” karena pernyataan sering bersifat khiasan, maka Pak Muh diyakini oleh para santri dan masyarakat desa sebagai seorang wali. Beberapa warga desa Kerekan, yang dengan bangga menganggap diri mereka sebagai murid Pak Muh, menceritakan kepada saya pengalaman mistik mereka dengan Pak Muh.
                Suatu hari dua orang penduduk desa Kerekan pergi menemui Pak Muh untuk mengundangnya mengisi pengajian. Mereka disuguhi teh dan rokok. Kemudian pada hari itu juga kedua orang tersebut membeli kupon undian lotre dan ditulisi angka 2 dan 4 (karena mereka berdua disuguhi dua gelas teh dan empat batang rokok), sambil menganjurkan warga desa yang lain untuk melakukan hal yang sama. Mereka memenangkan lotre. Dua hari kemudian, dalam pengajian di desa Kerekan Pak Muh diberi hidangan makanan. Tiba-tiba dia mengatakan, “Saya tahu hidangan ini meruapakan akibat dari teh dan rokok yang saya suguhkan beberapa hari yang lalu, bukan?” Setiap orang yang hadir dalam acara itu terkejut. Mungkin komentar Pak Muh itu hanya guyonan, tapi mereka tangkap serius. Penduduk Kerekan kini meyakini bahwa Pak Muh benar-benar seorang wali yang memiliki kemampuan membaca sesuatu yang tersembunyi. Banyak sekali cerita semacam itu berkenaan dengan kemampuan mistik Pak Muh, meskipun dia sendiri selalu menolak dipanggil kiai.
                Berbeda dengan kakaknya, Pak Muh tidak selalu diakui sebagai seorang kiai. Dia lebih sering memakai celana dan kemeja daripada sarung dan peci, kadang-kadang memakai jeans. Rumah beliau penuh dengan gambar wayang. Pada tembok depan dekat pintu masuk ada gambar Werkudara yang besar, orang kedua dari lima ksatria Pandawa Lima (Bandung, Al-Maarif, 1988:91). Beliau juga mencintai kesenian Jawa. Kiai Thoyib, alumni senior Pesantren Tegalrejo, bercerita kepada saya bahwa sejak kecil Pak Muh sudah menunjukkan tindakan yang khariqul ‘adah. Ketika suatu hari Kiai Chudlori menyuruh dia belajar membaca kitab, Pak Muh bertanya “Kitab apa yang harus dipelajari”. Tanpa diduga-duga, Pak Muh mampu membaca kitab yang dimaksud dengan lancar, meskipun sebelumnya beliau belum pernah mempelajarinya (Cerita yang sama dapat ditemukan di mana-mana di seluruh Jawa. Tohir, putri pertama Kyai Mangli, Grabag, juga diyakini mempunyai kemampuan membaca tanpa melalui proses belajar tyang wajar). Sejak itu, Kiai Chudlori tidak pernah lagi menyuruh dia mempelajari ini atau itu karena meyakini anaknya tersebut sudah dikaruniai ilmu laduni. Bahkan Kiai Chudlori tidak berani mananyai Pak Muh, meskipun tindakannya itu nyleneh, apalagi para santrinya.
                Kiai Thoyib juga bercerita kepada saya bahwa satu minggu sebelum wafat almarhum Kiai Chudlori memberi pesan khusus berkenaan dengan Pak Muh. “Aku percayakan anakku padamu. Tapi bersabarlah dalam mendidik anakku Muh itu, karena perkataan dan tindakannya seringkali khariqul ‘adah. Kata-kata dan tindakannya mungkin sangat nyleneh, tapi semuanya akan terbukti menjadi suatu yang bermanfaat atau isyarat mengenai apa yang akan terjadi!” Kemudian Kiai Chudlori memberikan serban putih kepada Kiai Thoyib yang dipahami sebagai barokah juga merupakan ungkapan agar wasiat tersebut dilaksanakan.
                Pada tahun 1978, satu tahun setelah wafatnya Kiai Chudlori, Pak Muh mengundang banyak jatilan dan beberapa pertunjukkan kesenian rakyat Jawa untuk ikut ambil bagian dalam kataman. Masyarakat Tegalrejo dan sekitarnya sangat terkejut dengan tindakan ini. Bagi para santri itu kejutan besar, karena mereka memandang pesta kesenian Jawa merupakan aktivitas kalangan orang-orang kejawen yang dulu disponsori orang-orang PKI dan PNI. Namun, tampaknya tak seorang pun mempertanyakan keputusan Pak Muh ini.
                Bagi orang kejawen, pesta ini juga mengejutkan. Karto Peni, eks anggota PKI di Soroyudan yang sekarang menjadi seorang santri membandingkan Pak Muh dengan Wali Sanga (Hasyim, 1985:24-28). Sujilan, eks aktivis PKI lainnya, menyebut Pak Muh sebagai seorang kiai sejati dan bijak. Menarik sekali, reaksi dari para santri lainnya. Kiai Thoyib bercerita pada saya bahwa segera setelah penyelenggaraan kataman tahun 1987, ada perdebatan sengit di kalangan para kiai di sekitar daerah itu mengenai status pesta semacam itu menurut pandangan fiqh. Sebagian besar kiai berpendapat bahwa perayaan semacam itu lebih banyak mendatangkan maksiat daripada manfaat, karena pesta ini mengundang laki-laki dan perempuan bercampur tanpa batas di waktu malam.
                Tapi tak seorang pun mengajukan persoalan ini kepada Pak Muh. Daripada menanyakan persoalan ini kepada Pak Muh , beberapa kiai malah bertanya kepada kiai Thoyib mengenai kesopanan menyelenggarakan pertunjukkan dalam acara kataman. Dalam menanggapi persoalan ini, Kiai Thoyib mengutip kitab Ihya ‘Ulum ad-Din karya Imam Ghazali: “Sebuah tahi lalat yang ada di wajah seseorang akan membuat wajahnya menjadi cantik, tetapi wajah yang banyak nodanya akan kelihatan jelek dan membuatnya menjadi lebih buruk.”
                Segera menyusul festival tahun 1979, banyak permintaan kepada Pak Muh dari desa-desa kejawen agar beliau memberikan pengajian di desa mereka. Bahkan masyarakat desa Cepoko dan Dompelan meminta Pak Muh untuk membantu mendirikan masjid di desa mereka. Karena pengaruh positif semacam itu, suara-suara menentang di kalangan kiai menghilang. Sejak itu, kataman di Pesantren Tegalrejo dikenal luas bukan saja sebagai acara keagamaan, tapi juga sebagai festival berbagai macam pertunjukkan kesenian rakyat Jawa. Pada perayaan kataman bulan April 1986, ada satu rombongan badui, kobra, samroh, dua kelompok wayang kulit, tiga grup ketoprak, sepuluh rombongan jatilan, dua reog, lima campur dan lima sorengan, di samping film Indonesia, band dan musik dangdut. Festival ini menjadi perayaan terbesar di daerah Magelang. Aspek tak lazim dari perayaan ini adalah rombongan jatilan dari Gandon dan Kwadaan yang mengikutsertakan penari-penari putri.
                Kesenian rakyat Jawa semacam ini tidak lazim dalam kerangkan perayaan di pesantren. Sebagaimana ditunjukkan oleh Greetz (C.Greetz, The Religion. Op.Cit hlm 289-299), kesenian tersebut mereka kaitkan dengan kelompok abangan. Namun, di Tegalrejo, pesantrenlah yang dianggap sebagai pelindung kebudayaan rakyat Jawa. Oleh karena itu, bagi desa-desa di sekitar Tegalrejo sudah menjadi kebiasaan masyarakat desa belajar bermain jatilan di halaman langgar setelah menjalankan shalat Dzuhur berjama’ah, sebagaimana terjadi ketika saya melakukan penelitian di desa Sidorejo, Juli tahun 1987.
                Mangku, seorang ketua rombongan jatilan di Soroyudan, bercerita pada saya biasanya dia menetukan tarif Rp.10.000,- untuk satu pertunjukkan kepada orang-orang yang mengundangnya. Tapi jika rombongannya diundang oleh Pondok Pesantren Tegalrejo, dia dan teman-teman penari jatilan sepakat untuk bermain tanpa bayaran. Karena Pak Muh yang mendo’akan rombongan jatilan ini ketika dibentuk tahun 1983. Pesan Pak Muh, “Bermainlah jatilan sesuka kamu, tapi janganlah kamu melupakan salat!” Mangku merasakan bahwa rombongannya banyak ditanggap karena doa Pak Muh. Oleh karena itu, bisa dipahami ketika ia mengatakan, “ Undangan untuk memeriahkan perayaan pesantren membuat saya jauh lebih bahagia daripada dibayar beribu-ribu rupiah!”. Kenyataan ini menunjukkan betapa harmonisnya hubungan antara Pesantren Tegalrejo dengan masyarakat sekitar. Dan kehidupan seperti ini memperlihatkan contoh yang jelas, batapa kelirunya memandang kebudayaan santri sebagai sesuatu yang selalu bertentangan dengan kebudayaan Jawa asli sebagaimana penelitian Greetz.

Kesimpulan
                Tidak seperti anggapan umum bahwa pesantren selalu didirikan oleh keturunan kiai, Pesantren Tegalrejo didirikan oleh seorang priyayi yang membuat pesantren ini menjadi satu diantara pesantren terbesar di Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan di tengah-tengah masyarakat penganut kejawen. Pesantren ini memainkan peran yang berarti dalam proses santrinisasi daerah sekitar. Namun, untuk menjalankan peran tersebut, Pesantren Tegalrejo berusaha lebih menerima budaya lokal ketimbang menentangnya.
                Secara umum Pesantren Tegalrejo di samping dipandang sebagai pusat belajar agama Islam, juga menjadi pelindung kebudayaan rakyat. Sebagian besar masyarakat sangat meyakini bahwa Kiai Chudlori seorang sufi yang besar sehingga pengaruhnya dalam pesantren masih tetap ada. Karena itulah, keberhasilan Kiai Abdurrahman menjalankan pesantren, sebagian karena kharisma ayahnya, dan sebagian juga karena adiknya, Pak Muh, wakil pengasuh pesantren. Banyak orang meyakini bahwa Pak Muh adalah wali—satu keyakinan yang menjadi bagian penting dalam sistem keyakinan masayarakat Jawa (Koentjoroningrat, 1985:319).
                Dari catatan di atas kita dapat melihat secara jelas bahwa Islam tradisional dengan beberapa keistimewaan sifat mistiknya, sebagaimana ditunjukkan oleh Pesantren Tegalrejo, bukan sekedar bersifat defensif vis-à-vis modernis (M.C.Ricklefs, 1979:123). Namun, Islam tradisional masih menampilkan kekuatan dan kemampuan untuk memperkuat pengaruhnya, khususnya di kalangan masayarakat Jawa pedesaan.






























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar